Jumat, 21 Februari 2014

"Sajak Untuk Sebuah Nama (Munir)"

Belum usai pagi engkau sudah pergi
kami masih terbenam mimpi-mimpi
tak sempat antarkan kau menuju dermaga baka.

Sempat bertanya kepada angin: "Secepat ini kau pergi tinggalkan misteri dalam bathin kami?"

Belum lagi usai perjuangan,
belum lagi habis kesaksian,
kau tinggalkan kami dengan beraneka tanya dalam benak.

Keberanian mu telah merobohkan gardu istana
membuat riuh suasana dalam diri penguasa
kecemasan yang datang dari meja kekuasaan
menikam keadilan dengan alasan kedamaian.

Apalah arti sebuah kedamaian, bila kebenaran hanya menjadi buih-buih ombak di tengah samudera?
Apalah arti sebuah kesaksian, bila mulut tak sempat bicara seusai hujan peluru berpesta di jalan raya?
Apalah arti hukum dan hak asasi, jika hanya menjadi permainan segelintir orang?

Ya !
kami bertanya-tanya,
pada gelap negeri dan bathin kami sendiri
mengapa kebenaran dan keadilan hanya menjadi teriakan-teriakan bisu di gardu istana?
sedang kini kami masih bergerilya
mencari kebenaran yang terkubur tanpa nisan
sedang kini kami masih bernyanyi dengan nada sumbang
di samping makam keadilan.

Jaman apa yang kita bangun kini,
jika hukum hanya menjadi bendera bendera pajangan
jika siapa saja boleh membeli hukum tanpa kebenaran
dan jika siapa saja bisa menjadi Tuhan bagi hukum itu sendiri.

Hukum dan hak asasi harusnya berlantaikan kebenaran dan akal sehat,
Hukum dan hak asasi harusnya berhakikat pada keadilan.

Kini...
kini kami sudah terbangun
dan bergegas untuk berdiri pada barisan depan
menjadi tombak untuk membunuh kepalsuan 
menggali makam misteri mu
agar sejarah mencatat
bahwa dulu ada kebenaran yang sangat di takuti oleh penguasa.

Demokrasi apa yang di bangun dalam negeri ini?

Kini kami telah membentuk sebuah barisan tanpa nama
saling merangkul dan bersuara satu:
"Hanya pada nya yang ingkar demokrasi, ingkar keadilan, kutukan kami mengibiri nya setiap saat !"







read more