Belum usai pagi engkau sudah pergi
kami masih terbenam mimpi-mimpi
tak sempat antarkan kau menuju dermaga
baka.
Sempat bertanya kepada angin: "Secepat
ini kau pergi tinggalkan misteri dalam bathin kami?"
Belum lagi usai perjuangan,
belum lagi habis kesaksian,
kau tinggalkan kami dengan beraneka tanya
dalam benak.
Keberanian mu telah merobohkan gardu
istana
membuat riuh suasana dalam diri penguasa
kecemasan yang datang dari meja kekuasaan
menikam keadilan dengan alasan kedamaian.
Apalah arti sebuah kedamaian, bila
kebenaran hanya menjadi buih-buih ombak di tengah samudera?
Apalah arti sebuah kesaksian, bila mulut
tak sempat bicara seusai hujan peluru berpesta di jalan raya?
Apalah arti hukum dan hak asasi, jika
hanya menjadi permainan segelintir orang?
Ya !
kami bertanya-tanya,
pada gelap negeri dan bathin kami sendiri
mengapa kebenaran dan keadilan hanya
menjadi teriakan-teriakan bisu di gardu istana?
sedang kini kami masih bergerilya
mencari kebenaran yang terkubur tanpa
nisan
sedang kini kami masih bernyanyi dengan
nada sumbang
di samping makam keadilan.
Jaman apa yang kita bangun kini,
jika hukum hanya menjadi bendera bendera
pajangan
jika siapa saja boleh membeli hukum tanpa
kebenaran
dan jika siapa saja bisa menjadi Tuhan
bagi hukum itu sendiri.
Hukum dan hak asasi harusnya berlantaikan
kebenaran dan akal sehat,
Hukum dan hak asasi harusnya berhakikat
pada keadilan.
Kini...
kini kami sudah terbangun
dan bergegas untuk berdiri pada barisan
depan
menjadi tombak untuk membunuh
kepalsuan
menggali makam misteri mu
agar sejarah mencatat
bahwa dulu ada kebenaran yang sangat di
takuti oleh penguasa.
Demokrasi apa yang di bangun dalam negeri
ini?
Kini kami telah membentuk sebuah barisan
tanpa nama
saling merangkul dan bersuara satu:
"Hanya pada nya yang ingkar
demokrasi, ingkar keadilan, kutukan kami mengibiri nya setiap saat !"
