Rabu, 11 Februari 2015

Semesta; Rahasia-Rahasia di Dada Hawa

Teruntuk Hawa,



Sekali waktu, ingin sekali kupinjamkan gincu milik ibu ku. Membiarkan keberanian mengecup bibirmu, agar mampu merayu kejujuran dari lidahmu. Engkau, tak sedikit mengumpulkan satu persatu risau yang kau kutuk, dengan dalih ingin kau bunuh, kau memakamkannya di antara keterasingan paling riuh; dadamu. Hingga kelak, langkahmu meragu pada banyak pintu; sebab mereka kerap menghantui dengan melumat waktu.

Bukankah gerimis lebih banyak berbuih kemudian buncah di dada? Menjadikan tahun-tahun tergenang oleh ingatan tertahan; perihal perih yang kau reguk sendirian, hingga menumpahkan apa-apa yang mereka sebut air mata.

Bagimu Hawa, mencintai bukan hanya perkara keikhlasan semata; ialah kepercayaan bahwa kesabaran tak berusia. Untuk perkara gemuruh di dada, hanyalah fatamorgana semata, yang tak ingin halilintarnya menyakiti ia yang kau sebut Adam.  Bisakah sedikit saja, wahai Hawa? Cintamu jatuh pertama pada perempuan yang hilang dari ingatan, seorang perempuan yang kau hancurkan jiwanya sebab ingin melindungi ia yang kau cinta; seorang perempuan di tubuh hawa.

Usahamu ialah tatapan kepada langit yang begitu sepi warnanya, sedang langkahmu hanya berada di ayunan. Kemudian kau akan mencoba  menyelimuti dukamu dengan senyuman, yang kau lupa, tak kan selamanya hatimu selamat. Kau selalu percaya, bahwa hujan tak mungkin tiba, tanpa pelangi setelahnya. Sebab itu, kau mematahkan lelah dan kerap menghadiahi kakimu yang patah dengan banyak tabah.

Wahai Hawa,

Jika mereka sebut dadamu ialah lautan, yang tak seorangpun tahu kedalamannya; bagiku, dadamu ialah semesta, di mana rahasia tak lagi berangka dan hanya kepadaNya-lah segala rahasia kau percayakan.

Yang perlu kau tahu ialah, Tuhan tak mungkin menciptakanmu tanpa alasan.


Percayalah, wahai Hawa,

Terkadang, bahagia merambat begitu perlahan hingga memaksamu untuk mengakar pada amarah; tapi ia selalu tiba, tepat pada waktuNya. Percayalah, pada getir yang kau ikhlaskan di atas sajadah; sebab kepadaNya-lah rahasia semesta berpasangan dengan jawaban-jawaban. Percayalah, nyeri yang kau genggam, tak hanya engkau yang merasakan sendirian; dan percayalah, aku pun merasakan demikian, meski dengan skenario yang berbeda.


Kau tahu mengapa aku hampir mengetahui semuanya?

Sebab ibu ku pun seorang hawa, seorang perempuan dengan semesta di dada.

Sebab kalian ialah rahasia Tuhan yang dianugrahi perasaan; dan dengan menjaga perasaan orang yang kita cinta ialah salah satu cara mencintai diri kita. Tanpa peduli luka akan semakin luas berkuasa, karena kita percaya, kita lebih kuat dari yang terlihat.

Sebab itu, wahai hawa.

Aku mengirimkan surat ini sebagai pengingat, bukan hanya engkau yang menelan pekat malam dengan merajut doa-doa, dan berharap kelak masih ada sebelum detak tak lagi bernyawa; engkau tak sendirian, wahai hawa.
read more

Sabtu, 07 Februari 2015

Senja Kala Itu

Kepada senja kala itu,

Aku rindu senja kala itu, dimana aku masih bisa menyentuh punggungmu bahkan bersandar disana. Masih bisa memandang wajahmu dan mengusapkan jemariku dipipimu. Ingatan tentang harum tubuhmu pun masih segar sampai saat ini. Betapa aku merindukan senja kala itu. Memori yang indah sebagai penutup bab pada bagian buku ini.

Lalu bab baru tercipta dengan judul ‘hubungan jarak jauh’. Kamu bisa menemukan buku berjudul seperti itu di toko buku mana saja, tapi bukan aku penulisnya dan ceritanya bukan tentang kita. Mungkin ceritanya mirip, namun bisa jadi lebih haru daripada kisah kita.

Tangan kananku terkadang suka menggenggam tangan kiriku dan ibu jari kanan mengusap lembut punggung tangan kiri, berharap itu kamu yang menggenggam.
Mengingat senja itu, aku sedikit banyak menyesal. Mengapa aku harus menemanimu membeli tiket saat itu? Kalau saja aku tidak berinisiatif menemanimu, mungkin kamu tidak perlu pergi segesa itu. Atau mungkin bisa saja kamu masih ada disini bersamaku? Atau ada kemungkinan-kemungkinan lain yang bisa terjadi, entahlah.

Akhir-akhir ini jarak semakin menakutiku. Setiap malam aku bermimpi genggaman tangan kita hampir terlepas, aku terbangun seketika merasakan sepi yang selama ini aku abaikan. Pernah aku ceritakan padamu kalau aku kesepian, tapi kamu menganggap aku bercanda. Kamu tidak mengerti, kamu tidak memahami. Mungkin karena aku yang melebih-lebihkan bunga tidur itu, atau sebenarnya kamu yang tidak perduli.

Bagaimanapun kita harus kuat mengindahkan jarak diantara kita. Meski sepertinya aku yang harus lebih banyak berusaha. Aku selalu menunggu saat-saat dimana kita akan melihat senja bersama lagi.

Semoga kita bisa segera menghabiskan senja bersama lagi.
read more

Kamis, 05 Februari 2015

Teruntuk Kau Yang Melupakan Jalan Pulang

Pulanglah.. Telah begitu lama kau tersesat. Aku mengerti, memang aku yang selalu bilang tersesat adalah proses menemukan diri.

Ya, aku menikmati momen-momen ketika tersesat. Menikmati pembelajarannya, menikmati prosesnya. Aku menikmati bagaimana menemukan jalan yang baru, teman perjalanan yang baru, lalu cerita yang baru. Ah aku jadi ingat, kita dulu bertemu ketika sama-sama tengah tersesat, kan? Seperti baru saja kemarin.

Tidak apa, aku mengerti. Biarkanlah dirimu tersesat. Lalu temukan kembali dirimu. Temukan jalanmu sendiri. Tapi, jangan lupa pulang. Sebab kali ini sudah terlalu lama.

Apa mungkin kau sengaja menyesatkan diri? Mungkin kamu lebih menyukai ketersesatanmu? Atau hidupmu yang tersesat lebih manarik dibandingkan rumah?

Atau mungkin kau memang sengaja melupakan jalan pulang? Mungkin karena itu kamu pergi sebegini lama. Aku merasa kita telah sampai pada fase jenuh. Aku jemu padamu, pun kamu. Lantas mengapa kita masih rumah bagi satu sama lain? Bagaimana jika kamu adalah muaraku, dan aku muaramu?

Teruntuk mereka yang lupa jalan pulang, termasuk kamu. Ada yang menantimu dalam rindu, dan buaian janji, kepergian untuk kembali. Pulanglah.

Seperti yang kau bisikkan melalui telepon hari-hari kemarin, “tunggu aku pulang”.
read more

Selasa, 03 Februari 2015

Korupsi Di Mata Pram


Baru-baru ini, siapa yang tak tahu tentang konflik antara kedua lembaga penegak hukum—KPK vs Polri. Saya tak perlu membahas siapa yang layak diselamatkan dan yang tidak perlu diselamatkan. Bagi saya, jika itu demi kepentingan negara, keduanya harus diselamatkan dari tikus-tikus berdasi, dari mafia-mafia hukum. Dua lembaga yang berdiri atas dasar idealisme ini terlalu mahal untuk dirusak demi kepentingan segelintir orang yang haus harta dan kuasa.

Pernahkah para pelaku korupsi—sebelum atau sesudah melakukan korupsi—berpikir jernih, melibatkan hati yang paling bersih untuk segala tindakannya? Tak perlu sampai membahas nasib bangsa dan negara, cukup bertanya kepada hati nuraninya sendiri, apakah dia layak berlaku tak senonoh seperti itu?

Saya teringat tentang sosok Bakir yang dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer sebagai pegawai negeri yang mulai berpikir ingin melakukan korupsi, karena hidupnya yang makin tak beruntung. Sebenarnya dia termasuk pegawai yang patut diacungi jempol, tak sekalipun melakukan kesalahan dalam bekerja. Tapi, kehidupannya makin lama makin berkekurangan. Harta satu per satu habis digadaikan. Sebagian rumahnya harus disewakan ke orang lain, demi tambahan uang untuk pembeli makan anak-anaknya.

Di suatu malam, keukehlah niatnya ingin melakukan korupsi. Ada kepedihan di dalam hatinya, karena harus meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lama yang mengantarkan dia ke ruang kesuksesan yang semakin memudar, dan harus menggantikannya dengan kebiasaan baru yang akan mengantarkan dia ke dalam kemewahan tanpa batas yang menghalangi.

Lalu semudah itukah Bakir melakukan korupsi? Pram menceritakan kemelut di hati dan pikiran Bakir untuk memulai kebiasaan barunya pertama kali. Begitu sulit dia melakukannya. Sesekali dia melirik ke arah orang-orang yang ada di sekitarnya, dia begitu paranoid, mengganggap semua orang sedang memperhatikan gerak-geriknya. Padahal semua orang sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.

Ada kemelut dalam hati Bakir. Pram dengan apik menggambarkan kemelut itu sebagai bentuk awal korupsi sebagai masalah moral individu. Bakir masih terus menimbang baik dan buruk tindakan yang akan dilakukan, walaupun pada akhirnya dia tunduk pada iming-iming kemewahan dan kemegahan hidup yang sudah dimiliki terlebih dahulu oleh teman sejawatnya.

Kebutuhan hidup—bukan—lebih tepatnya keinginan hidup yang menggiring seorang Bakir mulai rela menukar kejujurannya dengan kertas, karbon dan pita mesin di hadapan taoke. Dua puluh rupiah telah mendarat di tangan.

Bakir mengalami kegelisahan, karena merasa diperlakukan tidak adil dengan mendapat dua puluh rupiah saja. Dia masih sempat berdoa memohon keadilan Tuhan, saat dia sedang berbuat tidak adil pada dirinya sendiri.

Kebiasaan baru yang disebut Bakir sebagai perjuangan terus berlanjut. Di rumah dia harus menemui istri dan anaknya. Dia harus berusaha bersikap sewajar mungkin. Sedangkan istrinya terus menaruh curiga kepada suaminya, ada yang berubah katanya. Istrinya selalu mengingatkan tentang berbuat baik dan menjadi pegawai negeri yang bijaksana. Sayangnya peringatan itu dianggap sebagai intimidasi oleh Bakir. Kepedulian seorang istri dianggaplah ajang untuk menggurui. Bakir sudah buta dan tuli, dia telah menjadi koruptor kelas teri. Sebentar lagi menjadi koruptor kelas kakap. Semua yang lama mulai ditinggalkan perlahan, termasuk keluarganya yang selalu setia menemani hidupnya selama ini.

Saat korupsi bukan lagi sekedar masalah moral individu, semuanya berubah. Demi status dan kehormatan, orang rela melakukan apapun. Mereka menyebut dirinya sedang berjuang memperbaiki kehormatan keluarga, tapi nyatanya sedang membangun pondasi yang begitu rapuh yang di saat rubuh akan menimpa seluruh anggota keluarganya. Tak hanya nasibnya yang hancur, anak dan istrinya mungkin akan jauh lebih menderita, mendapati kepala keluarganya masuk bui lalu mereka akan menanggung derita sosial dan ekonomi sekaligus untuk bertahan hidup.

Sayangnya, korupsi malah menjadi fenomena sosial yang terus membudaya, istilah kerennya sudah tersosialisasi dengan baik dalam sistem yang ada. Semuanya diwajarkan selama tidak diketahui oleh yang berwenang, jika pun diketahui, maka mereka akan menyuap kiri-kanan untuk menutup mulut agar semuanya terlihat biasa-biasa saja.

Tak hanya di lembaga pemerintahan, KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) menjamur luar biasa. Di lembaga pendidikan pun tak luput. Semuanya sudah tersistematis, mereka yang melakukan biasanya memiliki kedudukan lebih ditambah memiliki harta yang luar biasa, sehingga bisa menyuap ke sana kemari. Yang menerima sogokan sepertinya anteng-anteng saja, toh mereka mendapat komisi lebih di luar gaji. Maka wajarlah semuanya demi kemakmuran hidup. Yang menyogok mendapat keinginannya, yang disogok dengan riang gembira mendapati kebutuhan hidupnya terpenuhi.

Jika Pram mengisahkan Bakir dengan setting kehidupan Jakarta di tahun 1953. Sekarang di tahun 2015, masalahnya tetap sama. Masih tetap tentang korupsi untuk memenuhi keinginan duniawi yang haus harta dan kuasa. Bedanya hanya pada angka yang nolnya semakin melejit mengantri ke belakang, dibarengi rontoknya rasa malu dengan tanpa rasa bersalah terus menebar senyuman picik di layar kaca.

Maka lenyaplah cita-cita kemerdekaan negara ini, idealisme hanya tinggal menjadi bunga-bunga tidur.

Negara ini hadir tak lagi menyejahterakan rakyatnya. Tapi hanya memperkaya para koruptor.

Lengkaplah sudah, para koruptor dan para pemain sandiwara tampil apik di layar televisi anda sekalian.


** Pram jauh-jauh hari sudah memperingatkan kita tentang bahaya laten korupsi lewat bukunya “Korupsi”. Sayangnya kita tak pernah benar-benar sigap untuk menangkalnya.

read more

Selasa, 20 Januari 2015

Jika Sajakku Tak Bisa Lagi Menanggungmu

Sajakku punggung yang bisa memikul beban apa saja
tapi tak pernah bisa menanggung kesepian sendiri,
otot dan tulangya tak dilatih memanggul sebuah nama
yang memisahkan lengangku dari hiruk-pikuk dunia.

Tahun kembaraku tak mengajari memanggul suka cita
maka aku akan menempuhmu hanya dengan kaki lepuh,
hari-hari penuh peluh dan seikat doa hasil telimpuh.

Pada belikatmu telah kuikatkan bakal belulangku
agar ia bisa ganti menuliskan perjalanan ini andai
ketakberdayaan sudah merongrong sajak-sajakku.

Jika nanti sajakku tak kuasa lagi menanggungmu,
sudikah kau meminjamiku sepasang lututmu?

agar jauh linu dari sendi, jauh rindu dari sunyi
sebelum waktu kiam curam dan kian tak terdaki.
read more

Air Diri

Aku selalu mencintai air yang mengalir.
Mungkin karena sebagian besar tubuhku
tersusun dari air, mungkin karena kau
masih akan jadi akhir. Sedangkan kau
kuharap akan membaca tulisan ini
tak peduli kapan, tak peduli di mana,
aku hanya berharap kau membaca ini
dengan perasaan yang segar seperti
perasan-perasan limun dan pikiran
yang tak dikungkung tebal halimun.
Semoga matamu masih langit mendung
agar aku yang tinggal di dalamnya bisa
kau bawa ke mana pun: ke rengkah tanah,
ke batang pohon, ke pucuk-pucuk daun,
agar aku bisa jadi ricik atau rintik semauku.

Namun aku tidak menyukai air tenang.
Segala yang menggenang meski tenang
selalu menyimpan kegetiran yang pekat,
kesedihan yang berlarat-larat. Umpama
genangan air yang bercampur lumpur,
siapa bisa meredakan badai waktu yang
kian hari kian membuat kita makin uzur?
Aku merasa kebohongan adalah genangan
air yang tak bisa dihapus lubang jalan
dan kita pernah menjadi sepasang kekasih
yang tergila-gila dengan cuaca-cuaca buruk,
rindu kekosongan ketika saling terpuruk.

Dan cintaku masih air hujan pada talang
yang mengusik tidurmu dengan aliran
lembutnya. Aku akan menantimu bangun
di simpang sunyi dan rindu: dua arus
yang kelak bermuara di samudera waktu.

Mengalirlah, mengalirlah juga,
sampai tak ada lagi hari untuk terjaga.
Mengalirlah denganku sampai jauh
sampai hari esok kian tak tertempuh.
read more

Rabu, 14 Januari 2015

Rindu Masa Lalu

Dalam hidup kita kerap berpindah. Dari satu masa ke masa lain. Dari satu tempat ke tempat lain. Dari satu rasa ke rasa lain. Dari satu suasana ke suasana yang lain.
Lalu suatu ketika, -pada saat kau sudah sedemikian jauh berpindah-, kita rindu pada hal-hal yang terdapat di masa lalu.
Suasana, aroma, rasa; perasaan yang memaksamu ingin kembali.

Dan berharap, ketika setibanya pulang dan kembali nanti semua perasaan rindu itu tuntas dengan kembalinya suasana yang kita rasakan pada masa dahulu. Tapi, ternyata semua itu hanya bayang-bayang semu yang ada di dalam kepalamu, asa kosong tak bernama. kau telah mundur ke belakang, tapi rasanya seperti tak kembali. Kau telah pulang, tapi tetap merasa asing di tempatmu sendiri.

Lalu di titik nadir kecemasanmu, akhirnya kau tahu. Ketika kelak di masa depanmu nanti kau merasa rindu akan masa lalu, yang sebenar-benarnya kau butuhkan bukanlah kembali ke masa lalu. Melainkan sekadar mengingat lagi, hal-hal apa saja yang kau jadikan alasan atas kebahagiaan itu.

Sebab, ketika kau memutuskan pergi dan berpindah pada hal yang baru, tak selamanya pulang dan kembali ke masa lalu akan menyajikan hal yang sama lagi.

Karena hidup hanya sekali, buatlah berarti..
read more