Kepada senja kala itu,
Aku rindu senja kala itu, dimana aku masih bisa menyentuh punggungmu bahkan bersandar disana. Masih bisa memandang wajahmu dan mengusapkan jemariku dipipimu. Ingatan tentang harum tubuhmu pun masih segar sampai saat ini. Betapa aku merindukan senja kala itu. Memori yang indah sebagai penutup bab pada bagian buku ini.
Lalu bab baru tercipta dengan judul ‘hubungan jarak jauh’. Kamu bisa menemukan buku berjudul seperti itu di toko buku mana saja, tapi bukan aku penulisnya dan ceritanya bukan tentang kita. Mungkin ceritanya mirip, namun bisa jadi lebih haru daripada kisah kita.
Tangan kananku terkadang suka menggenggam tangan kiriku dan ibu jari kanan mengusap lembut punggung tangan kiri, berharap itu kamu yang menggenggam.
Mengingat senja itu, aku sedikit banyak menyesal. Mengapa aku harus menemanimu membeli tiket saat itu? Kalau saja aku tidak berinisiatif menemanimu, mungkin kamu tidak perlu pergi segesa itu. Atau mungkin bisa saja kamu masih ada disini bersamaku? Atau ada kemungkinan-kemungkinan lain yang bisa terjadi, entahlah.
Akhir-akhir ini jarak semakin menakutiku. Setiap malam aku bermimpi genggaman tangan kita hampir terlepas, aku terbangun seketika merasakan sepi yang selama ini aku abaikan. Pernah aku ceritakan padamu kalau aku kesepian, tapi kamu menganggap aku bercanda. Kamu tidak mengerti, kamu tidak memahami. Mungkin karena aku yang melebih-lebihkan bunga tidur itu, atau sebenarnya kamu yang tidak perduli.
Bagaimanapun kita harus kuat mengindahkan jarak diantara kita. Meski sepertinya aku yang harus lebih banyak berusaha. Aku selalu menunggu saat-saat dimana kita akan melihat senja bersama lagi.
Semoga kita bisa segera menghabiskan senja bersama lagi.
Sabtu, 07 Februari 2015
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar