Pulanglah.. Telah begitu lama kau tersesat. Aku mengerti, memang aku yang selalu bilang tersesat adalah proses menemukan diri.
Ya, aku menikmati momen-momen ketika tersesat. Menikmati pembelajarannya, menikmati prosesnya. Aku menikmati bagaimana menemukan jalan yang baru, teman perjalanan yang baru, lalu cerita yang baru. Ah aku jadi ingat, kita dulu bertemu ketika sama-sama tengah tersesat, kan? Seperti baru saja kemarin.
Tidak apa, aku mengerti. Biarkanlah dirimu tersesat. Lalu temukan kembali dirimu. Temukan jalanmu sendiri. Tapi, jangan lupa pulang. Sebab kali ini sudah terlalu lama.
Apa mungkin kau sengaja menyesatkan diri? Mungkin kamu lebih menyukai ketersesatanmu? Atau hidupmu yang tersesat lebih manarik dibandingkan rumah?
Atau mungkin kau memang sengaja melupakan jalan pulang? Mungkin karena itu kamu pergi sebegini lama. Aku merasa kita telah sampai pada fase jenuh. Aku jemu padamu, pun kamu. Lantas mengapa kita masih rumah bagi satu sama lain? Bagaimana jika kamu adalah muaraku, dan aku muaramu?
Teruntuk mereka yang lupa jalan pulang, termasuk kamu. Ada yang menantimu dalam rindu, dan buaian janji, kepergian untuk kembali. Pulanglah.
Seperti yang kau bisikkan melalui telepon hari-hari kemarin, “tunggu aku pulang”.
Kamis, 05 Februari 2015
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar