Selasa, 20 Januari 2015

Jika Sajakku Tak Bisa Lagi Menanggungmu

Sajakku punggung yang bisa memikul beban apa saja
tapi tak pernah bisa menanggung kesepian sendiri,
otot dan tulangya tak dilatih memanggul sebuah nama
yang memisahkan lengangku dari hiruk-pikuk dunia.

Tahun kembaraku tak mengajari memanggul suka cita
maka aku akan menempuhmu hanya dengan kaki lepuh,
hari-hari penuh peluh dan seikat doa hasil telimpuh.

Pada belikatmu telah kuikatkan bakal belulangku
agar ia bisa ganti menuliskan perjalanan ini andai
ketakberdayaan sudah merongrong sajak-sajakku.

Jika nanti sajakku tak kuasa lagi menanggungmu,
sudikah kau meminjamiku sepasang lututmu?

agar jauh linu dari sendi, jauh rindu dari sunyi
sebelum waktu kiam curam dan kian tak terdaki.
read more

Air Diri

Aku selalu mencintai air yang mengalir.
Mungkin karena sebagian besar tubuhku
tersusun dari air, mungkin karena kau
masih akan jadi akhir. Sedangkan kau
kuharap akan membaca tulisan ini
tak peduli kapan, tak peduli di mana,
aku hanya berharap kau membaca ini
dengan perasaan yang segar seperti
perasan-perasan limun dan pikiran
yang tak dikungkung tebal halimun.
Semoga matamu masih langit mendung
agar aku yang tinggal di dalamnya bisa
kau bawa ke mana pun: ke rengkah tanah,
ke batang pohon, ke pucuk-pucuk daun,
agar aku bisa jadi ricik atau rintik semauku.

Namun aku tidak menyukai air tenang.
Segala yang menggenang meski tenang
selalu menyimpan kegetiran yang pekat,
kesedihan yang berlarat-larat. Umpama
genangan air yang bercampur lumpur,
siapa bisa meredakan badai waktu yang
kian hari kian membuat kita makin uzur?
Aku merasa kebohongan adalah genangan
air yang tak bisa dihapus lubang jalan
dan kita pernah menjadi sepasang kekasih
yang tergila-gila dengan cuaca-cuaca buruk,
rindu kekosongan ketika saling terpuruk.

Dan cintaku masih air hujan pada talang
yang mengusik tidurmu dengan aliran
lembutnya. Aku akan menantimu bangun
di simpang sunyi dan rindu: dua arus
yang kelak bermuara di samudera waktu.

Mengalirlah, mengalirlah juga,
sampai tak ada lagi hari untuk terjaga.
Mengalirlah denganku sampai jauh
sampai hari esok kian tak tertempuh.
read more

Rabu, 14 Januari 2015

Rindu Masa Lalu

Dalam hidup kita kerap berpindah. Dari satu masa ke masa lain. Dari satu tempat ke tempat lain. Dari satu rasa ke rasa lain. Dari satu suasana ke suasana yang lain.
Lalu suatu ketika, -pada saat kau sudah sedemikian jauh berpindah-, kita rindu pada hal-hal yang terdapat di masa lalu.
Suasana, aroma, rasa; perasaan yang memaksamu ingin kembali.

Dan berharap, ketika setibanya pulang dan kembali nanti semua perasaan rindu itu tuntas dengan kembalinya suasana yang kita rasakan pada masa dahulu. Tapi, ternyata semua itu hanya bayang-bayang semu yang ada di dalam kepalamu, asa kosong tak bernama. kau telah mundur ke belakang, tapi rasanya seperti tak kembali. Kau telah pulang, tapi tetap merasa asing di tempatmu sendiri.

Lalu di titik nadir kecemasanmu, akhirnya kau tahu. Ketika kelak di masa depanmu nanti kau merasa rindu akan masa lalu, yang sebenar-benarnya kau butuhkan bukanlah kembali ke masa lalu. Melainkan sekadar mengingat lagi, hal-hal apa saja yang kau jadikan alasan atas kebahagiaan itu.

Sebab, ketika kau memutuskan pergi dan berpindah pada hal yang baru, tak selamanya pulang dan kembali ke masa lalu akan menyajikan hal yang sama lagi.

Karena hidup hanya sekali, buatlah berarti..
read more